Home > Uncategorized > Mengenal Investasi Reksadana

Mengenal Investasi Reksadana

Seperti yang Anda mungkin sudah tahu, rekSadana (mutual fund) adalah wahana yang digunakan untuk menghimpundana masyarakat (pemodal) untukkemudian diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh manajer investasi (MI). Portofolio efek tersebut bisa berupa saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau kombinasi dari beberapa di antaranya.

Orang bilang jangan letakkan telur-telurAnda dalam satu keranjang. Maksudnya, untukmengoptimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan risiko perlu dilakukan diversifikasi agar bila terjadi kerugian pada satu aset, masih bisa di-cover dengan aset lain untuk menghindari kerugian maksimal. Konsekuensinya, kita perlu membangun suatu portofolio aset, yakni sekumpulan aset dengan berbagai profil risiko yang berbeda seperti saham, obligasi, deposito, dan Iainnya. Repotnya, untuk membangun portofolio ideal diperlukan dana yang relatif besar; hitung-hitungan saya, paling tidak perlu Rp1 miliar.

Reksadana kemudian muncul sebagai solusi agar pemodal tak lagi kesulitan dalam berinvestasi. Kesulitan berupa dana yang mepet, keterbatasan pengetahuan dan informasi, kurangnya waktu dan tenaga untuk memonitor portofolio, dan risiko-risiko lain dapat diatasi dengan reksadana. Sebagai gambaran, penduduk Indonesia saat ini sekitar 230 juta jiwa, namun dana yang terkumpul dalam reksadana baru sekitar Rp166 triliun saja (2011). ltu artinya reksadana masih merupakan wahana yang bagus dan potensial untuk berinvestasi.

Ada beberapa keuntungan dari investasi dalam bentuk Ehksadana. Pertama, investor memiliki akses untuk imenyusun portofolio dari beragam instrumen investasi Eyang sulit (dan mahal) untuk dilakukan sendiri.

Keuntungan kedua, diversifikasi secara otomatis.

Investor dengan sendirinya akan tersebar ke beragam Easet sesuai dengan profil risiko masing-masing. Selain ltu, barrier to entry untuk berinvestasi dalam reksadana i terbilang re_ndah. Siapa pun bisa memulai berinvestasi reksadana as low as Rp250 ribu saja.

Investasi dalam bentuk reksadana dikelola oleh manajer investasi (Ml) profesional dengan administrasi oleh kustodian dan diawasi secara ketat oleh Bapepam-LK sehingga risiko penipuan maupun mismanajemen dapat diminimalisir.

Kelebihan lainnya, reksadana memiliki likuiditas yang cukup tinggi. Unit penyertaan dapat dibeli atau dijual kembali setiap hari bursa melalui MI.

Investor institusional seperti dana pensiun, bank, perusahaan swasta, juga dapat memetik keuntungan dari reksadana. Bagi pemerintah dan perusahaan emiten, reksadana merupakan salah satu sumber dana investasi yang dapat menjangkau investor secara luas sehingga dana terkumpul bisa jauh lebih besar.

Jenis-jenis Reksadana

Adapun menurut portofolio investasinya, reksadana dibagi menjadi:

Reksadana Pasar Uang

Reksadana yang mayoritas alokasi investasinya pada efek pasar uang, yaitu efek utang berjangka kurang dari satu tahun seperti SBI, deposito, dan sebagainya. Tingkat risiko (dan return) relatif paling rendah. Reksadana ini cocok untuk jangka pendek sebagai pelengkap tabungan atau deposito. Tidak ada biaya pembelian dan penjualan kembali. NAB/NAV per UP selalu “di-reset” Rp1.000 setiap harinya.

Reksadana yang setidaknya 80% alokasi investasinya pada efek utang jangka panjang. Potensi risiko dan return lebih besar daripada tabungan, deposito, atau reksadana pasar uang. Cocok untuk investasi jangka menengah (kurang dari 5 tahun). Ada sebagian reksadana yang membagikan keuntungan berupa dividen secara berkala.

Reksadana yang melakukan investasi sekurangnya 80% dari portofolio ke efek ekuitas (saham). Dibanding reksadana lain, potensi risiko dan return relatif paling tinggi dan cocok untukjangka panjang (3 tahun atau lebih).

Reksadana Campuran

Alokasi aset merupakan kombinasi antara efek ekuitas gdan efek utang yang tidak termasuk dalam kategori di iltas. Potensi risiko dan return biasanya berada di antara Fireksadana pendapatan tetap dan reksadana saham.

Selain tersebut di atas, terdapat juga beberapa jenis F reksadana lain seperti reksadana terproteksi, reksadana Index fund, reksadana LQ45 ETF, juga reksadana internasional yang sangat beragam.

Umumnya, produk reksadana yang ada berupa Kontrak lnvestasi Kolektif (KIK). Ini bentuk yang paling lazim, di mana ada kontrak antara Ml dan bank kustodian yang mengikat pemegang unit penyertaan (UP). Ml diberi wewenang untuk mengelola investasi kolektif dan bank kustodian memiliki wewenang untuk melakukan penitipan kolektif. Reksadana KIK tidak menerbitkan saham mei Iainkan melalui UP sampai sebesar jumlah yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Investor yang berpartisipasi akan penyertaan berupa surat konfirmasi dari bank kustodian.

Manajer lnvestasi (Ml) adalah pihak yang bertanggung jawab mengelola dana yang terkumpul dalam reksadana. MI take care terhadap setiap kegiatan investasi, mulai dari analisis investasi, pengambilan keputusan, monitoring pasar, atau mengambil tindakan emergencyyang sekiranya  diperlukan. Manajer investasi harus mendapat izin dari Bapepam-LK. Manajer investasi mendapat imbalan jasa dalam bentuk management fee, performance fee, dan entry/exit fee.

Sementara itu, bank kustodian adalah pihak yang memegang dana investasi sehingga dana investor tidak dipegang langsung dan/atau disalahgunakan oleh manajer investasi. Bank kustodian mengawasi setiap penggunaan dana. Biasanya merupakan bank umum yang disetujui Bapepam-LK untuk menyelenggarakan jasa kustodian atau penitipan efek secara kolektif dan harta lain serta menerima dividen, bunga, atau hak-hak lainnya. Bank kustodian mengutip custodian fee sekian persen dari dana kelolaan yang dipotong Iangsung dari NAB/NAV.

Selain sebagai lembaga penitipan dan pengamanan, bank kustodian juga merupakan administrator yang mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya dan bertugas menghitung NAB/NAV setiap jenis reksadana KIK per akhir hari bursa untuk kemudian diumumkan melalui media. Bank kustodian juga berfungsi sebagai transfer agent, yang mencatat seluruh transaksi seperti pembelian (subscription) atau pencairan (redemption) yang dilakukan tiap nasabah.

Selain menyelesaikan transaksi efek, bank kustodian akan memberikan surat konfirmasi sebagai tanda bukti atas setiap transaksi reksadana. Kalau investor melakukan transaksi langsung ke perusahaan pengelola reksadana, tanda bukti akan diberikan langsung kepada investor.Sementara bila investor bertransaksi melalui selling agent

(Seperti bank), biasanya tanda bukti “dititipkan” di selling agent tersebut.

Prospektus dan Laporan Keuangan Tahunan Reksadana

Buat sebagian orang mungkin merupakan dokumen yang garing dan membosankan. Tapi sesungguhnya prospek adalah bacaan wajib yang perlu dipahami dan dijjadikan acuan sebelum investor melakukan investasi di reksadana. Biasanya prospektus mendeskripsikan satu jenis reksadana, namun kadang mendeskripsikan juga beberapa reksadana sekaligus yang dikelola oleh perusahaan pengelola reksadana yang sama. Periode perhitungan reksadana biasanya dimulaiv 1 Januari berakhir 31 Desember. Pada tiap periode tersebut biasanya prospektus diterbitkan oleh perusahaan pengelola reksadana.

Tiap periode (tahun) perusahaan pengelola reksadana juga diharuskan untuk mengeluarkan laporan keuangan akhirtahun yang diauditoleh auditor independen. Biasanya disertakan juga surat pemegang saham (shareholder letter) yang ditulis oleh presiden direktur atau manajer investasi yang berisi tinjauan tujuan investasi dan kinerja selama periode tersebut. Biasanya dibandingkan juga (benchmarking) kinerja reksadana dengan parameter industri seperti lndeks Harga Saham Gabungan (lHSG), lndeks LQ-45 (indeks 45 saham paling Iikuid), atau Jakarta Islamic Index (Jll).

Laporan tahunan dilengkapi dengan tabel dan grafik untuk membandingkan pertumbuhan reksadana selama periode tertentu dan menjelaskan komposisi/persentase instrumen efek yang dimiliki. Laporan ini juga memaparkan NAB/ NAV serta laba bersih yang diperoleh. Selain dari Iaporan tahunan, NAB/NAV Iazim dimuat di surat kabar/majalah terkemuka dan situs internet seperti BiSnis Indonesia atau Infovesta.

Laporan tahunan juga memuat posisi aktiva dan pasiva di penutupan pasar saham dan obligasi pada tanggal pelaporan. Aktiva adalah seberapa banyak investasi yang dilakukan di pasar, jaminan yang dipegang untuk dipinjamkan, serta piutang yang dimiliki. Pasiva adalah jumlah utang yang digunakan untuk membeli efek.

Portofolio dan perputaran portofolio (portofolio turnover) yang dibeli dan dijual selama periode tersebut juga dicantumkan dalam laporan tahunan. Prinsipnya, makin tinggi turnover biasanya menambah biaya transaksi dan menggerus potensi laba. Kebanyakan reksadana agresif yang mengejar pertumbuhan biasanya memiliki turnover sangat tinggi.

Catatan kaki (footnotes), yang mencakup hal-hal Iain seperti kebijakan akuntansi, pihak-pihak berkepentingan, serta transaksi afiliasi (arms-length transaction) biasanya juga dicantumkan dalam Iaporan keuangan tersebut. Selain prospektus, Iaporan keuangan adalah bahan in’formasi penting yang mutlak dimiliki dan dimengerti investor guna pengambilan keputusan investasi. Sebelum Anda berinvestasi, sebaiknya baca juga prospektus dan Fi“ laporan keuangan reksadana secara teliti.

Nllai Aktiva Bersih [NARI/Net Asset Value (NAV)

Unit Penyertaan (UP) adalah satuan investasi dalam reksadana. Pada saat penawaran umum perdana, UP ditetapkan Rp1.000 kecuali reksadana pasar uang yang selalu ditetapkan Rp1.000 setiap awal hari bursa. Bila pada penawaran umum suatu reksadana terkumpul dana sebesar Rp100 juta berarti ada 100 ribu lembar UP beredar dengan NAB/NAV Rp1.000/UP.

NAB/NAV dalam rupiah biasanya dihitung sampai 4 angka desimal. Dalam contoh berikut, angka desimal dihilangkan hanya untuk kemudahan perhitungan semata.

Sebagai contoh, misalkan selama suatu periode manajer investasi mampu membukukan keuntungan 40% maka dana yang terkumpul akan menjadi Rp140 juta. Jika sebelumnya NAB/NAV sebesar Rp1.000/UP, kini nilainya naik jadi Rp1.400/UP. Misal biaya yang dibebankan 1%, maka NAB/NAV Rp138,6 juta atau Rp1.386 per UP. Setelah dikurangi biaya-biaya tersebut, hasil investasi akan menjadi hak investor.

Misalkan saya berinvestasi dengan membeli 5O ribu UP pada penawaran umum, maka saya harus mengeluarkan dana Rp1.000/UP atau Rp50 juta. Jika saya ingin menjual UP yang saya miliki saat ini dengan harga Rp1.386/UP maka saya akan menerima dana sebesar Rp69,3 juta. Keuntungan yang saya peroleh sebesar Rp19,3 juta.

Bila saat ini Anda ingin masuk, Anda harus membeli dengan harga Rp1.386/UP. Misalkan Anda membeli 10 ribu UP, maka Anda harus membayar Rp13,86 juta. Seandainya beberapa bulan kemudian NAB/NAV turun menjadi Rp1.350/UP dan Anda ingin menjual reksadana Anda, maka Anda akan menerima dana Rp13,5 juta. Dalam kasus ini Anda menderita rugi Rp360 ribu.

Nilai NAB/NAV selalu update tiap hari bursa oleh bank kustodian dan diterbitkan di berbagai media. NAB/NAV tak serta-merta menggambarkan mahal tidaknya reksadana. Reksadana yang baru ditawarkan biasanya NAB/NAVnya murah, sementara reksadana yang sudah eksis cukup lama bisa jadi memiliki NAB/NAV tinggi. Namun, NAB/NAV juga bisa dipengaruhi misalkan oleh kebijakan manajer investasi untuk melakukan split ratio yang akan mengubah nilai NAB/NAV dan jumlah UP—walau pada akhirnya nilai investasinya sama saja.

Membeli dan Menjual Reksadana

Setiap kali Anda akan membeli reksadana, Anda akan dikenakan selling fee tertentu. Misal suatu hari Anda membeli reksadana dengan investasi Rp10 juta, NAB/ NAV Rp1.350/UP, dan selling fee sebesar 1%. Jumlah UP yang bisa diperoleh dapat dihitung dengan rumus: membayar dan memasukkan inquiry sebelum jam 12.00

Anda membeli setelah pukul 12.00 WIB, Anda akan dimasukkan ke NAB/NAV hari bursa berikutnya?

Sementara saat menjual reksadana, Anda akan dikenakan redemption fee. Misal hari ini Anda ingin membeli reksadana yang Anda beli di atas dengan NAB/NAV Rp2.025/UP dan redemption fee sebesar 1,5%. Besarnya redemption dapat dihitung dengan rumus:

Redemption = UP x NAB/NAV (1 – fee) Redemption = 7333,3333 x Rp2.025/UP (1 – 0,015) Redemption = Rp14.627.250

Jadi besarnya keuntungan Anda adalah sebesar Rp4.627.250. Return on investment (ROI) investasi Anda sebesar 46,27%. Menarik bukan?

Yang Perlu Diperhatikan

Anda bisa memilih suatu produk reksadana berdasar reputasi dari pengelola (manajer investasi). Laporan historis dari beberapa tahun ke belakang juga bisa menjadi indikator baik buruknya suatu reksadana. Namun, agak kurang bijaksana bila hanya membandingkan return reksadana dari 6 bulan atau 12 bulan terakhir—apalagi untuk reksadana yang cukup volatile seperti reksadana saham dan reksadana campuran. Gunakan data historis

setidaknya 3—5 tahun ke belakang untuk melihat performa dan konsistensi suatu reksadana.

Anda juga bisa menggunakan metode benchmarking untuk mengukur kinerja suatu reksadana. Berdasar profil risiko/return, maka jenis reksadana yang paling rendah return-nya adalah reksadana pasar uang, diikuti dengan reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan terakhir adalah reksadana saham.

Seharusnya, return dari reksadana pasar uang ada di atas tingkat bunga dari tabungan dan deposito di bank umum. Reksadana mempunyai risiko yang lebih tinggi daripada tabungan biasa. Reksadana tidak dijamin oleh pemerintah sebagaimana halnya tabungan dan deposito. Reksadana juga punya biaya-biaya (fee) yang menjadi beban Anda. Maka tidak masuk akal bila return dari reksadana pasar uang berada di bawah return tabungan atau deposito di bank umum.

Hal yang sama juga berlaku pada reksadana jenis lain. Return dari reksadana pendapatan tetap seharusnya juga berada di atas return dari obligasi ritel Indonesia (ORI). Return dari reksadana saham juga seharusnya berada di atas indeks harga saham gabungan (IHSG). Bila reksadana saham Anda jeblok di bawah IHSG, ada baiknya Anda switch ke reksadana indeks yang biayanya lebih murah dan pergerakannya persis mengikuti arah gerak IHSG.

Categories: Uncategorized Tags:
December 5th, 2014