Home > Uncategorized > Mengenal lnvestasi 0bligasi

Mengenal lnvestasi 0bligasi

”Don’t worry about the future. I swapped your retirement fund for 5 cords of fire wood, some vegetable seeds, and a brooding hen.”

Di bab sebelumnya, kita sudah belajar soal reksadana dan saham. Berikutnya, paper asset yang ingin saya bahas adalah obligasi. Mari kita berkenalan dengan obligasi Iebih lanjut.

Obligasi (bond) merupakan surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan/ swasta. Saat ini banyak reksadana yang menjadikan obligasi sebagai salah satujenis investasi dalam komponen portofolio reksadana tersebut.

Obligasi merupakan salah satu instrumen keuangan yang cukup menarikbagi kalangan investor, baikindividu maupun institusi. lnvestasi Rp1 miliar merupakan awal yang umum dibutuhkan. Walau ada juga yang memecahnya menjadi satuan yang Iebih kecil, misalkan Rp50 juta.

Salah satu jenis obligasi yang diperdagangkan di pasar modal kita saat ini adalah obligasi kupon (coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku obligasi. Obligasi punya nilai nominal (nilai pari/par value) dan waktu jatuh tempo tertentu. Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN, atau pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah.

Berinvestasi dalam obligasi mirip dengan deposito pada bank. Bila Anda membeli obligasi, Anda akan memperoleh bunga/kupon yang tetap secara berkala, biasanya setiap 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun sekali sampai waktu jatuh tempo. Ketika obligasi tersebutjatuh tempo, maka penerbit harus membayar kepada investor sesuai dengan nilai pari dari obligasi tersebut beserta bunga/kupon terakhirnya.

Hal yang sangat berpengaruh dalam harga pasar obligasi adalah perubahan suku bunga deposito. Naik turunnya suku bunga akan berpengaruh terhadap harga pasar suatu obligasi. Hubungan harga pasar obligasi dengan suku bunga deposito hubungan berbanding terbalik atau berkorelasi negatif. Jika suku bunga depositi meningkat, harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika suku bunga gdeposito menurun harga obligasi akan meningkat.

Penjelasan secara sederhananya adalah jika suku bunga deposito Iebih tinggi dari suku bunga obligasi, para Investor akan Iebih memilih menempatkan dananya dideposito. Hal ini mendorong pemegang obligasi untuk menjual obligasi yang dimilikinya dan mengubah menjadi deposito. Akibatnya, penawaran obligasi akan lebih besar dari permintaan. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, jika penawaran lebih tinggi dari permintaan 5 harga akan mengalami penurunan begitupun sebaliknya.

Obligasi bisa menjadi pilihan instrumen terbaik, terutama bila Anda memiliki tujuan keuangan dalam waktu dekat (menengah). Obligasi berpotensi memberikan tingkat bunga yang relatif lebih baik dibandingkan dengan deposito dan fluktuasi performanya relatif lebih rendah dibanding saham. Dengan tujuan keuangan antara 2—5 tahun, investasi ini mungkin akan menjadi investasi terbaik.

Sebagai contoh, bila Anda memiliki anak yang akan memasuki masa kuliah tiga tahun mendatang. Untuk kebutuhan uang kuliah di tahun pertama dan uang pangkal, Anda membeli obligasi dengan jangka waktu tersebut dan jatuh tempo sebelum waktu dibutuhkan. Dengan investasi dalam bentuk obligasi, tentunya Anda mendapatkan kepastian tingkat pengembalian sampai masa jatuh temponya.

Misalkan, Anda membeli obligasi sebesar Rp100 juta untuk masa tiga tahun dengan kupon bunga sebesar 12%. Anda akan menerima Rp12 juta setiap tahunnya selama tiga tahun sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Pada saatjatuh tempo, penerbit obligasi akan membayar modal Anda sebesar Rp100 juta.

Lalu, bagaimanakah kita bisa menilai keuntungan investasi obligasi?

Misalkan kita membeli sebuah obligasi dengan nilai pari (par value) Rp100 juta dengan harga Rp90 juta (90% dari nilai pari), obligasi tersebut memberikan kupon tetap sebesar 16% per tahun dan dibayarkan setiap tahun. Obligasi tersebut memiliki masa jatuh tempo 5 tahun. Dari data tersebut kita dapat menghitung perolehan kupon atau bunga yakni sebesar Rp16 juta per tahun (16% xRp100 juta) selam 5 tahun dan di akhir tahun ke-5 kita juga memperoleh kembali nilai pari dari obligasi tersebut yakni sebesar Rp100juta. Seperti halnya investasi saham, investasi obligasi juga dapat memperoleh keuntangan capital gain.

Katakan di akhir tahun ke-1 setelah pembayaran kupon ke-1 kita dapatkan, ternyata harga dari obligasi tersebut meningkat menjadi Rp95 juta. Agar kita dapat memperoleh capital gain dengan menjual obligasi tersebut di harga Rp95 juta sehingga dari sisi harga beli dan harga jual obligasi kita dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp5 juta ditambah dengan bunga/kupon yang telah kita terima sebelumnya sebesar Rp16 juta. Maka total keuntungan kita dalam satu tahun adalah sebesar Rp21 juta atau sebesar 23,33% per tahun juta + Rp16 juta) ; Rp90

Satu hal yang perlu Anda ketahui sebagai investor individu adalah besarnya kebutuhan modal yang harus é dikeluarkan untuk investasi dalam obligasi. Obligasi biasanya diperjual belikan dalam satuan.Rp1 miliar. Masa berlaku investasi obligasi sangat bergantung dengan badan yang menerbitkan. Yang paling umum adalah 5 tahun. Oleh karena itu sarana investasi dalam obligasi merupakan investasi jangka panjang. Sebagai pemegang obligasi, Anda dapat memperjual belikannya kepada pihak lain sebelum obligasi tersebut jatuh tempo sesuai dengan nilai atau harga pasar.

Lalu bagaimana dengan potensi risiko berinvestasi obligasi?

Pertama, risiko tingkat suku bunga (interest rate risk). Jika tingkat suku bunga deposito meningkat maka harga obligasi akan menurun dan sebaliknya. Risiko kedua adalah risiko gagal bayar (default risk). Perusahaan penerbit obligasi dapat mengalami kesulitan keuangan karena proyeksi bisnisnya tidak sesuai dengan kenyataan atau bahakan ada salah manajemen sehingga perusahaan tersebut tidak dapat membayar kupon atau bungan obligasi setiap tahun dan lebih parah lagi bila

terjadi gagal dalam membayar nilai pokok dari investasi (nilai pari. Secara lebih mudah kita dapat menilai risiko sebuah perusahaan dengan melihat pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga resmi pemeringkat perusahaan seperti Standard & Poors, Moody, Pefindo, dan Kasnic. Di sana kita dapat melihat kategori perusahaan berdasarkan tingkat kesehatannya dari mulai sangat sehat sampai dengan perusahaan berisiko tinggi.

Ketiga, risiko pembelian kembali (call risk. Ada jenis obligasi yang memiliki fitur pembelian kembali atau call, dalam arti perusahaan penerbit obligasi memiliki hak untuk membelikembali (buy back) obligasiyang kita miliki pada harga tertentu (call price, sebelum obligasitersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat bunga di pasar turun menjadi lebih rendah daritingkat pembayaran kupon (coupon rate.

Jenis obligasiyang memiliki fitur pembelian kembali juga mengakibatkan potensi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual (Capital gain) juga lebih kecil. Hal ini disebabkan harga pasar obligasi tersebut tidak akan dapat meningkat terlalu tinggi dari harga pembelian kembali (call price)yang telah ditetapkan di muka.

Risiko keempat adalah risiko likuiditas. Risiko likuiditas adalah risiko tingkat kesulitan untuk menjual kembali obligasi pada harga pasar dalam waktu singkat. Ada kemungkinan obligasi yang kita miliki tidak dapat kita jual segera karena obligasi tersebut tidak menarik buat

investor lainnya sehinggajika kita tibatiba membutuhkan | dana dalam jangka pendek maka tidak dapat dilakukan | dengan segera atau bila tetap ingin menjual harus bersedia menjual dengan harga yang jauh lebih rendah dari nilaisebenarnya.

Kelima, risiko inflasi. Bunga dan nilaipariyang kita terima nantinya secara real akan mengalami penurunan sejalan denagntingginya angka inflasiyang mengakibatkan daya beli kita semakin menurun.

Harga obligasi di pasar bisa saja lebih tinggi dari nilai parinya atau lebih rendah dari nilai parinya. Faktor perubahan harga obligasi di pasar sangat dipengaruhi oleh perubahan bunga deposito. Sebagai contoh dari sebuah transaksi obligasi serta bunga atau keuntungan yang dapat diperoleh dalam berinvestasi di obligasi. Misalkan Anda membeli sebuah obligasidengan nilaipari Rp1 miliar seharga Rp900juta (90 persen dari nilaipari.

Obligasi tersebut memberikan kupon tetap sebesar 16 persentahun dan dibayarkan setiap tahun. Obligasi tersebut jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Jadi Anda akan memperoleh dana sebesar Rp160 juta (16 persen X Rp1 miliar) selama 5 tahun. Di akhir tahun ke-5 Anda bukan hanya memperoleh bunga yang Rp160 juta, tapi juga memperoleh nilaiparidari obligasitersebut yaitu Rp1 miliar.

Selain darikeuntungan bungayang relatiflebihtinggi dari deposito,Andajugadapatmendapatkankeuntungan capital gain dalam investasi obligasi. Dari contoh sebelumnya, bila ternyata di akhir tahun ke-1 setelah kupon ke-1 Anda terima, ternyata harga dari obligasi tersebut naik menjadi Rp950 juta.

Untuk merealisir capital gain yang bisa Anda dapatkan Anda bisa menjual obligasi tersebut di harga Rp950 juta. Sehingga dari selisih harga beli dan jual Anda mendapatkan keuntungan sebesar Rp50 juta. Ditambah dengan bunga/lipon yang telah Anda terima sebelumnya sebesar Rp160 juta maka total keuntungan Anda dalam satu tahun ini adalah sebesar Rp210 juta atau sebesar 23,33 persen/tahun [(Rp50 juta + Rp160 juta) : Rp900 juta)].

Jadi investasi pada obligasi bukan hanya memberikan keuntungan dari pembayaran bunga tetap tapi Anda juga berpeluang untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan jual atau capital gain.

Categories: Uncategorized Tags:
December 5th, 2014