Home > Uncategorized > Mengenal lnvestasi Saham

Mengenal lnvestasi Saham

“Our shareholders seem a little nervous lately. When my fern died, our stock dropped 20 points.”

Sebagian besar masyarakat kita pernah mendengar kata “saham” namun tak jarang yang masih menyisakan banyak pertanyaan di benaknya. Misalnya, apakah investasi saham bisa dilakukan oleh individu? Atau, andaikata penghasilan saya kurang dari Rp5 juta per bulan, bisakah saya berinvestasi saham? Atau, seandainya saya ingin berinvestasi, apa tahapannya dan siapa yang harus saya hubungi?

Seperti kita tahu, saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perUSahaan. Anda membeli saham berarti Anda membeli Sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Selama perusahaanberoperasidan membukukan keuntungan, Andajuga berhak mendapat bagian dalam bentuk dividen. Anda juga bisa mengambil keuntungan dari naiknya harga saham tersebut dariwaktu ke waktu.

Bagaimana Memulainya?

Sebelum memulai berinvestasi, Anda harus membuka rekening efek terlebih dahulu melalui perUSahaan sekuritas yang terdaftar sebagai anggota bursa di Bursa Efek Indonesia (BEl. Selain ituAndadiharuskan menyetor sejumlah deposityang bisa bervariasi antara Rp10 jutaRp50 juta. Masing-masing sekuritas berbeda satu sama lainadayang menawarkan full-service, ada yang hanya melayani jualbeli saja. Ada pula perusahaan sekuritas yang memberikan jasa online brokerage, Sehingga Anda bisa melakukan jualbelilewat internet.

Setelah Anda mengisi form, melengkapi persyaratan dan administrasi, biasanya 23 harikemudian Anda bisa mulai berinvestasi. Besarnya fee untuk bertransaksi sekitar .2% untuk beli dan .3% untukjual. Perusahaan sekuritas biasanya membolehkan Anda untuk bertransaksi yang nilainya 23 kali dari deposityang Anda setorkan. Dana biasanya ditransfer darike rekening Anda pada T2 (beli) sampaiT3 (jual.

Namun, Anda juga perlu berhati-hati dengan broker. Mereka dibayar berdasarkan komisi belijualtak peduli Anda untung atau rugi. Brokerbroker nakalbahkan sering menggunakan dana Anda tanpa izin untuk melakukan transaksi sendiri. Selain itu, sebagian broker (perusahaan sekuritas)juga bertindak sebagai penjamin emisi (underwriter) ketika sebuah perusahaan mendaftarkan diri di bursa. Demialasan marketing, merekapunyakepentingan untuk menjaga agar harga saham emiten tersebut tetap bagus.” Oleh karenanya, jangan jadikan rekomendasi dari analis sebagai sumber utama dalam melakukan investasimelainkan sebagaimasukansaja. Yangterbaik tentu saja do your own homework!

Dalam dunia investasi, ada 2 metode yanglazim digunakan – sebagaialat, yaitu fundamental analysis (FA) dan technical analysis (FA). FA menilai saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan itu sendiri, karenanya, FA lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Seorang FA sejati biasanya tak cuma sekadar menganalisis data keuangan saja, tetapi juga datang ke perusahaan yang diincar, berbicara dengan manajemen dan pemiliknya, melihat visi-misi dan strategic plan ke depan, dan sebagainya. Tak jarang seorang FA sejati sampai terbang ke seantero dunia demi mengorek informasi Iangsung dari perusahaan.

Sementara itu, TA menilai harga saham berdasarkan refleksi harga di masa lalu dengan membaca sentimen, tren, dan proyeksi yang mungkin terjadi di masa depan. TA akan membantu Anda memperkirakan arah pergerakan harga, membuat batas-batas pergerakan dalam kondisi tertentu, serta menunjukkan target arah beserta risikonya. TA lazimnya dilakukan dengan bantuan software aplikasi dan banyak mengeksploitasi grafik (chan‘). Karena sifat dan karakternya, TA Iebih cocok untuk trading (spekulasi) dalam jangka pendek atau perlindungan (hedging).

Khusus di Indonesia, ada sebagian orang yang memasukkan bandarmologi analysis (BA) sebagai salah satu alat alternatif. Singkatnya, BA dilakukan dengan mencari rumor dan bisikan tertentu, Ialu membonceng bandar ‘ saat mereka akan menggoreng sebuah saham. BA hanya sesuai untuk dilakukan dalam waktu yang benar-benar pendek—dan Anda punya akses untuk menemukan saham mana yang siap untuk digoreng.

Gorengan (cornering) adalah aksi yang dilakukan untuk memanipulasi harga dengan membuat permintaan yang sangat tinggi atas saham tersebut. Setelah harga sahamnya melewati target poin tertentu, mereka kemudian melakukan aksi jual untuk meraih capital gain. Saham-saZ} ham gorengan biasanya merupakan saham lapis dua-tiga yang peredarannya tidak banyak dan harganya relatif murah. Mereka bisa naik-turun dengan sangat drastis tanpa sebab yang jelas dan harga saham tidak mencerminkan kinerja yang sesungguhnya.

Mana yang paling tepat? Masing-masing hanya sebuah alat yang akan bermanfaat bila digunakan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat pula. Saya sendiri Iebih menyukai FA karena filosofi saya adalah membeli saham dalam rangka memiliki perusahaan tersebut. Selama ini, semua dihitung hanya dengan kalkulator atau dengan bantuan Microsoft Excel tanpa tambahan software khusus.

Invest your time before invest your money. Sebelum terjun beneran, ada baiknya untuk meluangkan waktu belajar, membaca buku, mengikuti workshop, dan menggali lebih banyak informasi lain.

Jangan lupakan juga aturan dasar dalam berinvestasi: beli perusahaan bagus dengan harga diskon. Don’t be afraid to wait. Cari timing bagus yang memungkinkan Anda membeli di harga murah, misalnya bulan-bulan JanuariFebruari. Kalau‘Anda bisa membeli murah, walaupun harga tidak naik, Anda tetap melakukan “best buying” dan tetap mendapatkan potensi keuntungan melalui dividen.

Memilih Saham-Saham Unggulan

Berikutnya, setelah rekening efek Anda siap dan Anda sudah bisa melakukan jual/beli saham, maka bagian tersulit dari investasi saham adalah memilih jagoan yang nantinya akan memberikan hasil terbaik bagi kita. Karena saham merupakan tanda kepemilikan kita atas perusahaan, maka ada baiknya untuk berpikir layaknya pemilik bisnis (business owner). Sebelum menentukan perusahaan mana yang ingin dibeli, lakukan investigasi terlebih dahulu terhadap fundamental perusahaan yang Anda incar.

Ada ratusan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Anda bisa memulai dengan menyortir perusahaan-perusahaan dengan bidang bisnis yang Anda pahami atau perusahaan-perusahaan yang memiliki produk dan jasa unggulan. Pilih perusahaan yang Anda perkirakan akan terus bertumbuh selama 10, 20, 30 tahun ke depan. Selanjutnya, sortir berdasar manajemen dan pemiliknya. Pilih perusahaan yang dikelola oleh tim manajemen yang mumpuni. Hindari perusahaan yang punya tren “aneh”, misalnya sebuah perusahaan batu bara ketika harga komoditi batu bara naik namun harga sahamnya justru turun.

Ada baiknya juga memilih perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah atau grup bisnis yang terkenal profesional. Perusahaan yang dimiliki pemerintah (BUMN) biasanya “dituntut” untuk profitabel dan memberikan sumbangan kepada negara melalui penerimaan dividen. Hindari perusahaan yang dimiliki (dikelola) oieh grup-grup bisnis yang memiliki reputasi kurang baik. Berhati-hatilah karena mereka tak jarang melakukan manipulasi laporan keuangan atau melakukan trik financial engineering yang kasar.

Warren Buffett menyarankan untuk memilih perusahaan 5 yang memiliki economic moats, atau keunggulan kompetitif yang sulit untuk ditiru oleh kompetitornya. Economic moats bisa berupa keunggulan dalam bentuk brand (kekuatan merk), cost (efisiensi biaya), switching (“kesulitan” untuk berpindah ke produk/jasa lain), atau protection (perlindungan berupa paten, hak pengelolaan, aturan pemerintah, dan sebagainya). Economic moats tersebut akan membuat customer rela membayar lebih tinggi. Oleh karenanya, perusahaan yang memiliki economic moats bagus akan lebih profitable dan tetap bisa bertumbuhsekalipun suku bunga atau harga-harga sedang naik.

Sebagian orang juga menyarankan untuk membeli perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar (bluechip) dan yang Iikuid serta sering dijualbelikan (LQ45). Perhatikan juga bila perusahaan tersebut berencana untuk membeli kembali (buyback) saham mereka. BiaSanya itu merupakan pertanda saham mereka dihargai lebih murah dan punya prospek yang bagus di masa depan.

Masih bingung juga? Mungkin Anda bisa sedikit “mencontek” portofolio dari reksadana saham yang selama ini punya kinerja moncer. lsi perut reksadana tersebut bisa dilihat dari laporan tahunan dan/atau prospektus mereka.

Anda bisa gunakan portofolio mereka sebagai guidance untuk menyeleksi perusahaan yang akan menjadi tempat Anda berinvestasi.

Nah, kalau Anda menyortir sekian ratus perusahaan yang listing di BEI, maka sampai tahap ini pilihan yang tersisa mungkin tinggal 20-30 perusahaan saja. Cari informasi Iebih lengkap tentang kondisi sebenarnya perusahaan tersebut, misalnya dari karyawan, klien, supplier, atau akuntan yang mengaudit perusahaan tersebut. Bila ada waktu, kunjungi perusahaannya supaya mendapat gambaran yang Iebih lengkap. Kalau tidak, berarti Anda harus make sure bahwa laporan keuangan sudah mencerminkan kondisi sesungguhnya dari perusahaan tersebut.

Baca Iaporan keuangan dan Iaporan tahunan perusahaanperusahaan yang Anda incar. Anda bisa men-download di situs web perusahaan yang bersangkutan atau dari situs web Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pilih perusahaan dengan return on equity (ROE) lebih dari 15%. Hal ini menggambarkan bagaimana kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang dimilikinya. Kalau ROE hanya berkisar 8—9%, maka berinvestasi diperusahaan tersebut sama saja dengan menabung dalam bentuk deposito.

1 Selanjutnya, pilih perusahaan yang pertumbuhan laba 1 (earning growth) stabil berkisar antara 20% atau Iebih. Pilih juga perusahaan yang memiliki rasio utang terhadap dal yang relatif rendah dan rasio harga per free cash w rendah. Artinya, perusahaan bisa menghasilkan Y s dalam jumlah besar untuk membiayai operasional perusahaan dan melakukan ekspansi tanpa perlu mengFflndalkan pinjaman dari luar yang berbiaya tinggi. Rasio E‘debt/capital yang rendah juga memungkinkan perusahaan émenghasilkan cash flow yang lebih sehat dan tak terlalu [I sensitif dengan pergerakan suku bunga.

Valuasi Sederhana

Asumsikan Anda sudah menemukan 10-15 perusahaan P terbaik menurut Anda. Lalu, bagaimana cara untuk is menentukan harga wajar saham tersebut‘? Charles Mizrahi mengusulkan metode sebagai berikut. Pertama, tentukan earning per share (EPS) dan tren pertumbuhannya untuk 5 tahun ke depan. Kalau pertumbuhannya di atas 15%, gunakan rate 15%; sementara bila pertumbuhannya di bawah 10%, gunakan rate 10%. Kalikan untuk melihat future value pada akhir tahun kelima.

Setelah menemukan EPS pada akhir tahun kelima, kalikan dengan price earning ratio (PER) pada tahun tersebut. PER pada tahun tersebut dihitung dengan aturan sederhana; bila PER kurang dari 20%, gunakan rate 12%; bila PER lebih dari 20%, gunakan rate 17%. Selama ini, penelitian menunjukkan sangat jarang perusahaan membukukan PER tinggi lebih dari 17% selama bertahun-tahun. Setelah dikalikan, Anda akan menemukan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima.

Selanjutnya, tentukan berapa value sebenarnya saham tersebut. Caranya, tambahkan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima dengan dividen yang diperoleh. Dividen dihitung dengan menjumlahkan EPS selama lima tahun dikalikan dengan dividen payout ratio (DPR). Setelah ketemu fair value saham tersebut pada akhir tahun kelima, tinggal mendiskontokan ke nilai sekarang dengan target (hurdle rate) yang kita inginkan.

Perhatikan contoh berikut. Dengan menggunakan hurdle rate 15%, yaitu mengasumsikan saham perusahaan akan memberikan return 15% secara kontinu, saham ABCD bisa dibeli di bawah harga Rp10.500. Sementara dengan hurdle rate 20%, saham ABCD harus dibeli di bawah harga Rp8.500. Nah, bila harga saat ini Rp9.700, kalau mengharap return setidaknya 15% per tahun, Anda boleh membeli sekarang. Namun, bila Anda mengharapkan return setidaknya 20%, Anda harus menunggu sampai harganya turun ke Rp8.500.

Tentu saja perhitungan tersebut masih sangat kasar. Rate yang digunakan sangat konservatif karena banyak dari saham tersebut memiliki pertumbuhan EPS dan PER sangat tinggi. Bisa jadi, harga yang nantinya terbentuk jauh melampaui perhitungan tersebut. Tapi setidaknya simulasi di atas bisa jadi acuan untuk menaksir harga wajar suatu saham. Anda juga bisa memodifikasi rumus di atas karena ada kalanya bidang industri tertentu akan lebih sesuai bila dihitung dengan menggunakan rate yang tertentu pula.

Nah, setelah menemukan 5—7 saham terbaik yang Ememenuhi hurdle rate Anda dan diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, buy as much as you can. Hold untuk‘ waktu yang lama. lnsya Allah 4—5 tahun investasi i Anda mulai menunjukkan hasil.

Bagaimana dengan pergerakan naik turunnya harga? John Bogle, dalam tesisnya sewaktu masih di Princeton, mengatakan bahwa dalam jangka pendek harga akan selalu bergerak mengikuti psikologi dan sentimen pasar. Namun dalam jangka panjang, harga akan mencerminkan fundamental perusahaan itu sendiri. Selama tembakan kita jitu, dalam jangka panjang, ia akan memberi keuntungan yang cukup lumayan buat kita. Jangan tergoda untuk keluar-masuk hanya karena fluktuasi harga. Lebih baik Anda fokus pada pekerjaan lain atau mencari penghasilan alternatif untuk diinvestasikan lagi ke portofolio Anda.

Walau terdengar klise, jangan lupa untuk selalu berdoa agar dibimbing dalam membuat analisis dan keputusan investasi terbaik. Kalau investasi Anda sudah sukses, jangan lupakan untuk sisihkan setidaknya 10% dari keuntungan Anda buat mereka yang kurang beruntung. Kalau ada orang lain yang tertarik mencoba mengikuti jejak Anda, jangan segan-segan untuk membagi ilmu dan pengalaman.

Categories: Uncategorized Tags:
December 5th, 2014