Home > Uncategorized > Mengenal lnvestasi Uhobligasi Ritel Indonesia (OBI)

Mengenal lnvestasi Uhobligasi Ritel Indonesia (OBI)

”Call right now to receive our entire Get Out of Debt series for just 24 easy payments of $19.95…”

Obligasi Ritel Indonesia (ORI) bisa diibaratkan seperti obligasi biasa yang diterbitkan oleh negara dan ditujukan untuk investor ritel.

Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan obligasi negara yang dibeli oleh investor institusional seperti hedge fund, manajer investasi, dan perbankan. Dibandingkan obligasi negara yang dijual dalam pecahan besar (di atas Rp1 miliar), ORI bisa dibeli dengan modal minimum Rp5 juta saja dan tak lebih dari Rp3 miliar. Suku bunga yang ditawarkan berada di atas deposito namun sedikit di bawah obligasi negara konvensional. Produk ORI dipasarkan melalui bank dan perusahaan efek yang ditunjuk oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Obligasi negara—baik konvensional maupun ritel pada dasarnya dijual untuk mendanai pembangunan yang dilakukan pemerintah seperti tertuang dalam APBN. Selama ini, dana yang dihimpun dari masyarakat oleh bank kebanyakan diputar untuk membeli obligasi negara—bukan untuk menyalurkan kredit karena lebih berisiko. Bank mengambil untung dari selisih (spread) antara bunga deposito yang harus dibayarkan kepada nasabah dan bunga yang diperoleh dari obligasi negara. Misalkan suku bunga deposito 7% dan obligasi negara 11%, maka bank mendapatkan keuntungan 4% yang nyaris bebas risiko. Praktis tanpa perlu menyalurkan kembali dana yang terkumpul ke dalam pengucuran kredit ke masyarakat, bank masih bisa bernapas.

Tentu saja hal ini merugikan karena sektor riil yang seharusnya didorong melalui pengucuran kredit usaha menjadi mandeg dan stagnan. Oleh sebab itu, pemerintah meluncurkan obligasi negara yang ditujukan bagi investor ritel (individu). Selain untuk mencegah kemunduran pada sektor perbankan, penerbitan ORI ditujukan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar beralih dari saving society menja’di investing society.

Penerbitan ORI juga dilandasi semangat untuk ORI seri 001 pertama kali diluncurkan pada bulan Juli 2006 dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp3,2 triliun. Disusul kemudian OR! 002 pada bulan Maret 2007 dengan total dana yang terkumpul Rp6 triliun. ORI 003 kemudian f diluncurkan pada bulan September 2007 dengan suku bunga 9,4% dan berhasil meraih Rp9,3 triliun. Tak lama kemudian disusul ORI 004 yang diluncurkan pada bulan Maret 2008.

ORI 004 dijual oleh 18 agen (15 bank dan 3 perusahaan sekuritas) dari sebelumnya hanya 16 agen. Rata-rata agen penjual menjangkau 2.096 pemesan di 31 provinsi. Dana yang diperoleh Rp13,4 triliun; dengan pembelian ORI yang ditolak (melebihi batas maksimum Rp3 miliar) senilai Rp103,6 miliar. Terakhir, ORI seri 008 ditawarkan pada periode 7—21 Oktober 2011 dengan minimum pemesanan Rp5 juta (dan kelipatannya) dan bunga 7,3% per tahun (minus pajak 15%).

Berinvestasi di ORI cukup aman dan menguntungkan. Pembayaran pokok dan kuponnya dijamin UndangUndang. ORI juga lebih terjamin pembayarannya karena adanya jaminan oleh pemerintah, sedangkan deposito hanya bisa dijamin oleh pemerintah hingga 100 juta saja, jika lebih dari itu tidak dijamin, jadi tidak heran jika ORI menjadi alternatif investasi terlaris saat ini.

Bunga ORI juga kompetitif di atas rata-rata bunga deposito Bank BUMN. Nilai investasi pokok yang diperlukan juga bisa dimulai dari Rp5 juta dan kelipatannya. Kuponnya pun dibayar bulanan, tidak seperti obligasi konvensional yang dibayar setiap enam bulan. Selain itu, proses pembelian dan penjualan yang mudah dan jelas. Aturan pelaksanaan hingga pembayaran kupon dan pokoknya sampaijatuh tempo dijamin oleh pemerintah melalui endorse UU SUN dan UU APBN. Pendek kata, berinvestasi ORI tak beda jauh seperti menempatkan dana perbankan saja.

Lalu bagaimana cara membeli dan menjual ORI?

Sama seperti bank menjual produk asuransi, dalam penjualan ORI dan reksa dana, bank hanya bertindak sebagai agen penjual yang hanya mendapatkan komisi atas jasa penjualannya.

Misal Anda membeli 2 unit ORI yang umurnya 3 tahun seharga Rp10 juta dengan bunga 12%ltahun. Maka selama tiga tahun, setiap bulan anda akan mendapat kupon 1% yaitu sama dengan Rp100 ribu. ORI juga bisa dikatakan menabung kalau Anda membelinya untuk f” disimpan sampai akhirjatuh tempo. Menggunakan contoh I di atas, maka saat jatuh tempo, Anda akan mendapat ORI bisa juga dimanfaatkan untuk mencari capital gain seperti saham. Misal Anda membeli ORI Rp10juta dengan bunga 12%. Lalu Anda memantau harga obligasi di bursa obligasi, melalui realtime information provider, atau lewat koran. Jika ORI oversubscribe (banyak peminat), maka harga aslinya (100%) bisa saja menjadi misal 105%. Kalau Anda menjual pada hari tersebut, maka Anda akan mendapatkan kembali Rp10 juta + 5% capital gain = Rp10.500.000. Bisakah harganya turun? Bisa saja. Misalnya semua pemilik ORI lagi butuh uang, lalu ramairamai jual ORI sementara yang mau beli sedikit, bisa saja harganya menjadi 95%.

Bisa dibilang ORl adalah instrumen baru untuk berinvestasi. Anda bisa memanfaatkannya untuk investasi seperti deposito, namun bisa juga untuk spekulasi mendapatkan capital gain. Terserah pilihan Anda. Tapi perlu diingat, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi di ORI.

Pertama, risiko harga atau risiko pasar. Pada transaksi di Pasar Sekunder, dimungkinkan adanya risiko pasar, berupa capital loss, akibat harga jual lebih rendah dibandingkan  harga beli, di mana risiko tersebut dapat dihindari dengan tidakmenjual ORlyang dimilikisampaidenganjatuhtempo. Risiko ini akan dialami manakala terjadi kenaikan tingkat bungayang menyebabkan penurunan harga ORl dipasar sekunder. Kerugian (capital loss) akan terjadijika investor menjual ORI di pasar sekunder pada saat jatuh tempo, pada harga jual yang lebih rendah dari harga belinya. Ini tidak akan terjadi kalau investor memegang ORl hingga ORI jatuh tempo. Jadi investasi ORI sebenarnya adalah investasijangka menengah hingga panjang.

Kedua, risiko likuiditas. Seperti halnya investasi di instrumen lain di Pasar Modal, investasi pada ORI juga mempunyai risiko likuiditas. Artinya jika Anda ingin menjual OR sebelum jatuh tempo, ada kemungkinan harga jual yang Anda dapatkan lebih rendah dari harga pada saat Anda membeli ORI. Risiko ini adalah potensi kerugian apabila sebelum jatuh tempo pemilik ORl yang memerlukan dana tunai mengalami kesulitan dalam menjual ORI dipasar sekunder padatingkatharga (pasar) yang wajar. Hal ini terjadi karena tidak ada pembelinya, atau harga ORl sedang turun sehingga investor OR menunggu harga terbaiknya. Cara mengatasinya cukup mudah. Jika pemilik ORl membutuhkan dana, ORI dapat dijadikan sebagaijaminan dalam pengajuan pinjaman ke bank umum atau sebagaijaminan dalam transaksi efek di pasar modal atau menjualnya ke Agen Penjual.

Mencermatirisikorisiko diatas, investasiORI sebenarnya memiliki risiko yang sangat kecil dibanding dengan l investasi bentuk lain, termasuk investasi bodong yang belakangan ini panjang, yang tidak perlu dikhawatirkan risikonya.

Categories: Uncategorized Tags:
December 5th, 2014