Berkenalan dengan Compound Interest

December 4th, 2014 Comments off

”Money can’t buy happiness, but it can buy a lot of cool stuff to distract you from noticing how unhappy you are.”

Pada bab sebelumnya, saya membahas soal “price vs T5″, value denqan haraoan aqarAnda bisa membelaniakan value dengan harapan agarAnda bisa membelanjakan uang Anda secara efektif sehingga Anda mendapatkan barang dengan harga murah (low price) tetapi nilai guna tinggi (high value).

Pada bab sebelumnya, saya juga sudah bercerita soal create vs consume. Harapannya adalah supaya Anda tergerak untuk menghasilkan sesuatu, tak melulu mengonsumsi sesuatu. Mengapa saya menulis soal price vs value dan create vs consume?

Rumus untuk membangun kekayaan (wealth building) sebenarnya sederhana, yaitu you must produce more income than you spend and invest the difference. Sederhana, mudah dipahami, namun tak semua orang bisa melakukannya.

Nah, dari pembahasan soal price vs value sebelumnya, saya berharap Anda bisa belajar untuk menurunkan belanja Anda (lower your spending). Sementara dari pembahasan soal create vs consume, saya berharap Anda bisa meningkatkan income Anda (increase your income). Tujuannya apa? Supaya selisihnya bisa Anda investasikan.

Mengapa kita harus berinvestasi?

Because you want to enjoy the best years of your life. Because you don’t want to need to worry about money anymore.

Karena Anda sudah bosen hidup susah. Iya kan?

Nah, sekarang izinkan saya untuk memperkenalkan kepada Anda kekuatan bunga-berbunga (the power of compounding interest).

Albert Einstein menyebut compound interest sebagai “the eight wonder of the world” atau keajaiban dunia yang ke-8.

Compound interest memungkinkan kita mendapatkan ks“ investasi yang cukup besar dengan modal awal yang latif tidak besar. Kalau selama ini Anda bekerja untuk Fhang (you work for money), maka kini saatnya uang yang afgekerja buat kita (money work for us).

Misalkan Anda punya Rp10 juta hari ini. Uang tersebut 1 akan diinvestasikan dengan bunga 15% per tahun, dalam ljangka waktu 1O tahun ke depan. Maka, bunga yang akan Anda peroleh seharusnya sebesar Rp10 juta dikali E 15% dikali 10 tahun atau sama dengan Rp15 juta. Bila ditambahkan dengan modal pokok, maka total uang Anda E akan menjadi Rp25juta.

Tapi nyatanya, hasil yang Anda peroleh akan lebih besar dari Rp25 juta karena ada sistem bunga-berbunga (compounding interest).

Jadi, pada tahun pertama, investasi Anda akan bertumbuh menjadi Rp11,5 juta. Tahun kedua, Anda akan mendapatkan 15% dari Rp11,5juta tersebut, atau sebesar Rp1,725 juta. Pada akhir tahun kedua total uang Anda akan menjadi sebesar Rp13,225 juta. Pada tahun ketiga, U Anda akan mendapatkan 15% lagi dari uang tersebut. Begitu seterusnya hingga akhir tahun ke-10. Nah, pada akhir tahun ke-1O nanti, modal Anda akan bertumbuh menjadi tak kurang dari Rp40 juta.

Di sini Anda bisa melihat ada perbedaan signifikan dengan bunga biasa dengan bunga-berbunga (compounding interest). Selisihnya cukup besar, yaitu Rp40juta dikurangi.

Categories: Uncategorized Tags:

Pensiun Dini dalam Waktu 10 (atau Kurang) Tahun

December 4th, 2014 Comments off

”You told me to look for sound investments, so I bought an expensive stereo.”

Menurut Anda, seberapa susah sih untuk bisa pensiun dalam waktu 1O tahun (atau bahkan 7 tahun) mendatang?

Jawabannya tidak terlalu susah.

Siapa pun bisa pensiun dini dalam waktu 10 tahun. Hal ini 100% nyata dan bisa dilakukan.

Asumsikan Anda punya penghasilan Rp4 juta per bulan, atau Rp48 juta per tahun.

Kalau Anda menabung 70% dari penghasilan Anda, atau Rp2,8 juta per buian, lalu Anda investasikan dalam reksadana dengan return 8% per tahun, maka Anda akan mendapatkan Rp515 juta pada akhir tahun ke-10. lya, benar, Anda hanya akan menyisakan Rp1,2 juta saja per bulannya, atau Rp14,4 juta per tahunnya untuk hidup. Apakah hal ini mungkin? Hidup hanya dengan Rp1,2 juta per bulan? lya, mungkin saja. Kenapa tidak?

Setelah tahun ke-10, Anda punya Rp515juta. Seandainya Rp515 juta itu didepositokan dengan bunga 3% saja per tahunnya, maka Anda akan punya Rp15,45 juta per tahun untuk dihabiskan semau Anda. Angka tersebut lebih tinggi dari Rp14,4juta yang sebelumnya biasa Anda belanjakan. Anda tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun, cukup menikmati bunga deposito Rp15,45 juta tersebut.

Kalau Anda mau lebih agresif, coba saja Anda simulasikan dengan menginvestasikan 80% dari penghasilan Anda, atau Rp3,2 juta per bulan. Dengan hitungan ini, Anda bisa pensiun dini setelah tahun ke-7 karena Rp3,2 juta per bulan dengan return 8% akan menghasilkan Rp361 juta. Dengan bunga 3%, Anda akan mendapatkan Rp10,8 juta per tahun—lebih besar daripada yang Anda belanjakan sebelumnya Rp9,6 juta per tahun atau Rp800 ribu per bulan.

Mendengar ide ini, mungkin Anda akan menggelengkan kepala dan menertawakan saya. Bagaimana mungkin F hidup dengan hanya Rp1,2juta—atau bahkan Rp800 ribu per bulan—dengan biaya hidup yang makin lama makin membumbung tinggi seperti sekarang’? lni adalah ide I yang konyol. Mana mungkin hidup hanya dengan 20%—30% dari penghasilan kita?

Jawaban saya tetap sama: hal ini sangat mungkin untuk dilakukan. lni hanyalah soal pilihan hidup.

Banyak orang yang berkomitmen tinggi untuk bersikap frugal (hemat) dan memilih gaya hidup yang sederhana sebagai pilihan hidup mereka. Mereka tidak ingin menghabiskan waktu dan kehidupan mereka hanya untuk mencari uang. Mereka tidak ingin terbebani untuk mencari uang hanya untuk membiayai gaya hidup mereka sendiri yang berlebihan.

lni hanyalah soai nilai diri (personal values).

Ada orang yang memilih untuk hidup bersahaja, tinggal di pinggiran kota, makan dengan menu secukupnya, tidak menginginkan punya gadget terbaru, dan cukup memiliki kendaraan seken.

Sebaliknya, ada juga orang yang tak bisa hidup dengan gaya sederhana, harus tinggal di rumah mewah, makan dengan menu-menu mahal, selalu update dengan gadget terkini, dan punya kendaraan lux lebih dari satu.

Categories: Uncategorized Tags:

Sudahkah Anda Berada di Jalan yang Benar?

December 4th, 2014 Comments off

“On wall street today, stocks skyrocketed, spiraled, plummeted, soared, roared, mushroomed, ballooned, jolted, jiggled, plunged, plundered, dipped, dived, dumped, dragged, snoozed, cruised, crasbed, smashed, bounced, spun, careened, choked, caved, tanked, sizzled, and fizzled.”

Kalau kita bicara soal perencanaan keuangan, maka kita akan selalu bertanya-tanya, apakah kita sudah berada di jalan yang benar? Saya, Anda, kita semua pasti punya rencana-rencana yang ingin kita raih di masa depan. Tapi apakah untuk menggapai rencana tersebut kita sudah on target atau malah behind schedule?

Cara cepat untuk menentukan apakah kita sudah berada di jalan yang benar adalah salah satunya dengan

mengukur kekayaan bersih (net worth). Berapa sih seharusnya kekayaan bersih yang kita miliki saat ini?Apakah seseorang berusia 30 tahun dengan kekayaan bersih Rp50 juta lebih buruk daripada seseorang berusia 60 tahun dengan kekayaan bersih Rp200 juta? Bagaimana kita bisa mengukurnya?

Dalam buku The Millionaire Next Door, Thomas Stanley dan William Danko mengusulkan sebuah formula berikut:

“Multiply your age times your realized pretax annual household income from all sources except inheritances. Divide by ten. This, less any inherited wealth, is what your net worth should be.”

Kalikan usia Anda saat ini dengan seluruh penghasilan tahunan Anda (selain warisan/hibah). Kemudian, dibagi dengan 10. lnilah angka yang seharusnya mencerminkan kekayaan bersih Anda saat ini. Kalau Anda menikah (punya tanggungan), maka tinggal Anda kalikan dua dari angka tersebut.

Misalkan usiaAnda sekarang 35 tahun. Anda mendapatkan gaji Rp100 juta per tahun. Anda tidak punya tanggungan apa-apa. Berapakah seharusnya kekayaan bersih yang Anda miliki saat ini?

Cara menghitungnya adalah sebagai berikut: 35 (tahun) dikali 100 (juta) dibagi 10 sama dengan 350. Jadi setidaknya Anda harus punya kekayaan bersih sebesar Rp350 juta saat ini. Seandainya usia Anda saat ini 60 tahun dan menikah, Iongan penghasilan yang sama (Rp100 juta per tahun), inaka seharusnya Anda punya kekayaan bersih sebesar hp1,2 miliar.

Formula ini bukan sesuatu yang baru, karena hanya Ememodifikasi dari formula klasik “10% savings rule.” E’Formula ini juga menyederhanakan aspek lain seperti Elnflasi, pajak, suku bunga, dan sebagainya. Namun, Eformula ini cukup bisa menjadi cara cepat dan mudah untuk mengukur kekayaan Anda. Selain itu, biar pun f sederhana, formula ini sudah teruji secara matematis.

Nah, sebelum kita masuk ke pembahasan yang lebih teknis dan lebih detail, cobalah Anda ukur kekayaan bersih

Anda. Apakah Anda sudah berada di jalan yang benar’? Apakah Anda sudah bisa melebihi standar tersebut? Atau malah Anda tertinggal di belakang?

Categories: Uncategorized Tags:

Memahami Perbedaan Create vs Consume

December 4th, 2014 Comments off

Anda menghasilkan uang? Apakah barang tersebut malah menghabiskan uang Anda? Ataukah justru barang itu bakal menyusahkan Anda nantinya?

Mayoritas pembelian yang kita lakukan biasanya berujung pada liabilities (utang/tanggungan). Apalagi, bila kita membelinya sekarang dengan utang (kartu kredit). Lebih parah lagi, pembelian tersebut biasanya untuk barangbarang yang sifatnya konsumtif, bukan untuk barangbarang yang produktif atau bisa digunakan untuk cari duit. Akibatnya, pembelian-pembelian tersebut hanya akan menguras waktu dan energi Anda. Celaka sudah.

Cobalah untuk mengevaluasi pembelian-pembelian yang sudah Anda lakukan dalam 1-2 bulan terakhir. Menurut Anda, apakah pembelian-pembelian itu adalah pembelian yang memang valuable (worth the money) atau tidak? Apa yang bisa Anda simpulkan dari pembelian-pembelian Anda selama 1-2 bulan terakhir ini?

Mulai saat ini, sebelum melakukan pembelian apa pun (apalagi yang harganya cukup mahal), ajukan pertanyaan ini ke diri Anda sendiri:

What value will this provide? Will this help me become a better person?

Kalau jawaban untuk dua pertanyaan tersebut adalah “YA,” then go for it. Tapi kalau “TIDAK,” segeralah untuk membuang jauh pikiran Anda untuk membelinya.  We earn money 5 days a week, but we spend money 7 days a week!”

Pada bab sebelumnya, saya sudah mengulas soal price vs value. Maka kaii ini saya ingin membahas soal creating something vs consuming something.

Fakta yang terjadi di dunia ini adalah bahwa sebagian besar dari kita hanya bisa mengonsumsi, tidak bisa memproduksi atau menghasilkan sesuatu. Most people don’t create. Most people consume.

Mungkin terdengar sederhana, namun perbedaan ini akan terasa sangat signifikan sekali pengaruhnya.

Di dunia ini, produsenlah yang menghasilkan uang dan konsumenlah yang menghabiskan uang. Produsen adalah mereka yang diuntungkan. Konsumen adalah mereka yang cenderung dirugikan.

Jadi, kalau Anda sudah bosan hidup susah dan ingin mengubah hidup Anda, maka mulailah melihat dari perspektif produsen.

Jadilah seorang produsen. Buatlah sesuatu yang punya value dan diminati orang banyak. Start becoming in demand. Start taking the drivers’ seat.

Sebelumnya Anda membeli laptop dan BlackBerry dengan kacamata konsumen. Anda menggunakannya hanya untuk bermain game, BBM dengan teman-teman, atau ngobrol yang tak terlalu penting.

Sekarang, mulailah melihat dari kacamata produsen.

Cobalah manfaatkan laptop Anda untuk menghasilkan sesuatu, menulis buku, membuat aplikasi pemrograman, atau menggambar desain yang bisa dijual, dan seterusnya. Cobalah manfaatkan BlackBerry Anda untuk membuat group guna memasarkan pakaian dan aksesori. Pergunakan BlackBerry Anda untuk membangun kontak dengan prospek atau caion customerAnda. Apa pun yang bisa dilakukan dari kacamata seorang produsen.

Kalau selama ini Anda cuma gemar membeli buku karya Ebrang lain, mengapa tidak mulai mencoba menulis buku iAnda sendiri?

Kalau selama ini Anda hanya mengikuti seminar orang i lain, hey, kenapa tidak Anda buat seminar Anda sendiri? Toh, Anda juga punya keahlian dan knowledge yang bisa ii berguna buat orang lain, bukan? Kalau selama ini Anda berpikiran untuk membeli franchise orang lain, mengapa tidak mencoba membuat sendiri E bisnis Anda dan menjual lisensi franchise-nya kepada A oranglain?

Percayalah, perubahan mindset ini akan sangat berpengaruh sekali.

Kebanyakan orang-orang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya, dari slip gaji yang satu ke slip gaji yang lain, tak jarang berujung pada utang.

Mengapa?

Karena kita hanya berfokus pada membeli, membeli, dan membeli sesuatu. Kita tidak pernah berfokus pada menghasilkan atau menjual sesuatu.

So, from now on, start producing something! Start becoming in demand. Start taking the drivers’ seat.

Categories: Uncategorized Tags:

Memahami Konsep Price vs Value

December 4th, 2014 Comments off

”Gas prices are rising, so people will be staying home and watching more TV. That means more time on the sofa and more coins under the cushions. To increase your cash flow, my advice is to buy more sofas.”

Pada bab sebelumnya, kita sudah memahami mengapa perencanaan keuangan itu penting namun tidak banyak orang yang menguasainya dengan baik. Pada bab sebelumnya juga sudah diulas tentang sumber dari masalah keuangan yang kita alami dan gaya hidup orang kaya baru (OKB).

Nah, pada bab kali ini, saya ingin mulai membahas soal konsep-konsep yang perlu kita ketahui dalam bidang perencanaan keuangan. Yang pertama adalah konsep price vs value.

“Price is what you pay. Value is what you get.” Begitulah kira-kira apa yang dikatakan Warren Buffett, salah seorang investor dan businessman terkemuka di dunia.

Orang masih sulit membedakan antara harga (price) dengan nilai (value). Price tidak selalu sama dengan value. Ada kalanya suatu barang lebih tinggi price-nya daripada value-nya. Sebaliknya, bisa jadi ada barang dengan value tinggi namun price-nya tak seberapa.

Bisa jadi pula, barang yang sama mempunyai price dan value yang berbeda—bergantung pada persepsi kita sebagai pembelinya.

Ambil contoh sebuah mobil sedan mewah Aston Martin.

Buat seorang selebriti atau public figure, mobil tersebut punya value yang tinggi. Mengapa? Kaum selebriti atau public figure “dituntut” untuk selalu tampil menawan di setiap penampilannya. Begitu pula dengan kendaraan yang digunakannya. Dus, membeli mobil mewah sekelas Aston Martin jelas akan mendongkrak value mereka di mata publik.

Namun bagi saya, value sebuah mobii Aston Martin mungkin tidak seberapa. Buat saya, Honda Civic atau Toyota Camry sudah cukup. Lebih mewah dari itu mungkin tidak akan menambah value apa-apa buat saya. Yang ada justru sebaliknya: merepotkan. Biaya maintenance-nya cukup tinggi, pajak yang dibayar juga mahal, belum lagi kondisi jalanan di Jakarta yang kurang favorable.

Begitu juga dengan sebuah BlackBerry.

Buat saya, BIackBerry punya value yang tinggi karena memungkinkan saya untuk selalu terkoneksi lewat email/messenger setiap saat di mana pun saya berada. Dengan begitu, mudah bagi saya untuk melakukan aktivitas dan pekerjaan saya selagi saya mobile. Biaya langganannya mungkin mahal. Namun karena Blackberry tersebut saya gunakan untuk bekerja—dan menghasilkan uang lebih besar daripada biaya langganan yang harus dibayar—maka value BlackBerry tersebut tetap tinggi.

Tapi bagi keponakan saya yang masih SMP, BIackBerry mungkin tak terlalu tinggi value-nya. Dia menggunakan Blackberry hanya untuk berkomunikasi dengan pacar dan teman-temannya. Kepentingan terhadap BIackBerry tersebut mostly trivial atau hura-hura. Yang terjadi justru BlackBerry menjadi liabilities buat dia, karena ada beban biaya yang harus dia tanggung dari penggunaan BlackBerry tersebut. Belum Iagi bila penggunaan BlackBerry tersebut malah membuat dia sering bermain dan jadi malas belajar.

Jadi, sebelum Anda melakukan pembelian (apa pun itu), mulailah pikirkan, “What value will this provide?”

Apakah barang tersebut akan menjadi aset (harta/ kekayaan), atau malah jadi liabilities (utang/tanggungan) bagi Anda? Apakah barang tersebut akan membantu

Categories: Uncategorized Tags:

Sumber Dari Segala Sumher Masalah (Part II)

December 4th, 2014 Comments off

4) Mencari kenikmatan sesaat. lstilah kerennya instant gratification. Misalnya, “mumpung lagi ada diskon,” atau “mumpung kita lagi di Singapore, sekalian aja belanja,” atau “kapan lagi ada kesempatan ngeborong kayak gini?” Terdengar familier buat Anda?

5) Suka menunda. lstilah kerennya procrastination. Ya, manusia memang makhluk yang aneh. Kalau untuk keperluan konsumsi (hura-hura), cenderung ingin segera mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun untuk keperluan investasi (produktif), justru kalau bisa ditunda-tunda.

6) Simbol keterikatan. Kita melihat suatu barang memiliki keterikatan simbolik (attachment/entitlement) terhadap pemiliknya. Misal, memiliki mobil MercedesBenz dianggap sebagai simbol kesuksesan. Punya arloji Rolex diibaratkan pemiliknya adalah pribadi yang matang dan mapan. Membawa iPad ke mana-mana menunjukkan bahwa pemiliknya fancy dan up-to-date. Tentu saja, faktanya tidaklah selalu demikian.

7) Tidak memiliki rencana. Barangkali inilah yang paling parah. Kita tidak pernah menghitung (boro-boro merencanakan) penghasilan (earning) dan belanja (spending) kita. Kita tidak punya anggaran (budget), tidak mencatat pengeluaran, tidak memiliki strategi untuk meningkatkan penghasilan, dan belum menyusun rencana investasi. Jadi, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sumber dari segala sumber masalah adalah diri kita sendiri, sikap mental kita sendiri, dan kebiasaan kita sendiri.

5) mencari kambing hitam. Jangan menimpakan kesalahan pada orang Iain. Sebaliknya, mari kita lakukan introspeksi dan buat perubahan dari diri kita sendiri.

Categories: Uncategorized Tags:

Sumber Dari Segala Sumher Masalah

December 4th, 2014 Comments off

“A credit card is what you use when something costs too much and you want to pay more for it.”

Berdasarkan riset yang saya lakukan, 97% massalah yang dihadapi orang-orang terkait dengan keua ngarl adalah soal utang-piutang dan kartu kredit. Padahal. sejatinya utang-piutang adalah masalah yang sederlnana. Kartu kreditjuga pada awalnya diciptakan untuk memlbantu kita. Lalu, mengapa keduanya malah menjadi sulmber masalah?
Pertama, perlu digaris bawahi bahwa utang piutang dan kartu kredit bukanlah masalah, melainkan gejala atau symptom.

Apabila dirunut secara kronologis, maka, permasalahan keuangan lahir sebagai akibat dari belanja yang berlebihan (excessive spending) danatau kurangnya penghasilan (insufficient income. Bila dirunut lebih jauh lagi, sesungguhnya kedua haltersebut muncul sebagai akibat darigaya hidup (life habits)yang kurang sesuai.

Hal inilah yang menyebabkan mengapa persoalan keuangan menjadi masalah yang sering kali sulit diatasi oleh sebagian besar orangmasalah keuangan sangat erat dengan masalah gaya hidup.

Permasalahankeuanganyang dihadapi seseorang adalah cerminan dari gaya hidup (life habits) dan sikap mental (attitudeyang dimilikinya.

 

Inilah mengapa begitu banyak buku, majalah, tabloid, website, blog, dan sumbersumber informasi lain yang mengulas soal permasalahan keuangan. Kita berharap bahwa ada sesuatu rahasia” atau insider tips” yang bisa membantu persoalan keuangan kita. Kita terus mencari dan mencari lagi informasiinformasi baru. Sayangnya, makin banyak buku, majalah, tabloid, website, blog, dan tulisanyangkitabaca, malah membuatkitamakinbingung dan tidak mengatasi masalah. Karena masalah sesungguhnya ada di dalam diri kita sendiri.

Berikut adalah beberapa kesalahan yang lumrah kita

lakukan:

1) Salah membuat prioritas. Kita sering salah dalammenyusun prioritas. Kitamerasabahwa setelah kita membeligadgetterkiniatau mobilterbaru, akan memberikan kita rasabahagia dan nyaman. Padahal kenyataannya tidak demikian.

2) Melihat kartu kredit sebagaiuang. Tak sedikit orang yang menganggap bahwa kartu kredit adalah sama dengan uangyang bisa kita gunakan kapan saja untuk berbelanja dan membeli sesuatu. Cara kerja kartu kredit tidaklah demikian.

3) Impulsive spending. Kita membeli sesuatu hanya menuruti emosi dan ego dalam diri kita sendiri tanpa ada pertimbangan dan pemikiran secara rasional. Nilai guna dan kebermanfaatan dari suatu barangyang kita beli dikalahkan oleh faktor emosi dan ego.

Categories: Uncategorized Tags:

Membeli Saham Satu Perusahaan

December 4th, 2014 Comments off

Membeli saham satu perusahaan saja memberikan return yang lebih aman daripada membeli satu reksadana. Benar atau salah?

“Soal ujian” di atas diadopsi dari survei yang dilakukan oleh FINRA Investor Education Foundation untuk melihat kemampuan seseorang di bidang keuangan (financial capability) di seantero Amerika.

Walaupun survei tersebutdilakukan di negara maju dengan pendidikan dan wawasan yang dimiliki penduduknya sudah tergoiong tinggi, namun hasilnya mengejutkan. Misalnya, untuk pertanyaan pertama dan keempat, sekitar 24% penduduk yang disurvei menjawab salah. Untuk pertanyaan kedua, ada 33% yang menjawab salah. Lebih parah Iagi, di pertanyaan ketiga, cuma 30% yang menjawab benar.

Pertanyaan yang menggelitik saya kemudian adalah, kalau di Amerika saja separah itu, bagaimana dengan di Indonesia?

Baca selengkapnya

Categories: Uncategorized Tags:

Perencanaan Keuangan ltu Tidak Penting?

December 4th, 2014 Comments off

“Money can’t buy happiness. You also need high—yield stocks, prime real estate, and a solid credit rating!”

Majalah SmartMoney edisi bulan Juli 2011 menulis bahwa “Most people just don’t have enough financial assets set aside to meet their dreams.” Hal ini mungkin terdengar provokatif, tapi faktanya tidaklah terlalu mengejutkan.

Sebagian besar dari kita memang hidup pas-pasan.

Saya, Anda, sebagian besar dari kita, mungkin beruntung bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang Iayak. Tapi, kalau boleh saya tanya, selama sekian tahun Anda bekerja, sudah berapa banyak yang Anda dapatkan? Sudah berapa besar yang bisa kita kumpulkan? Jangan~ jangan gaji yang kita peroleh selama ini hanya cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tanpa bisa disisihkan untuk menabung dan berinvestasi demi hari tua.

Perencanaan keuangan adalah salah satu bidang yang boleh dibilang under-estimated. Orang cenderung mengabaikan urusan perencanaan keuangan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang enteng, remeh, dan bisa dikerjakan sambil jalan. Bagi sebagian besar kita, kultur/budaya menganggap bahwa membicarakan segala sesuatu berkaitan dengan uang adalah hal yang tabu.

Padahal, perencanaan keuangan adaiah salah satu hal penting dalam hidup kita. Memang benar, uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Uang juga tidak bisa membeli kebahagiaan, namun bagaimana kita bisa bahagia kalau kita tidak punya uang? Boro-boro mau menolong orang lain, menolong diri sendiri saja kesulitan, bagaimana kita mau bahagia?

lni adalah fakta yang menyedihkan. Perencanaan keuangan (inversionair finance) dan membangun fondasi kekayaan (wealth building principle) barangkali adalah dua subjek mata kuiiah yang sangat penting, tetapi tidak pernah diajarkan di sekolah/kuliah—bahkan di sekolah-sekolah bisnis (business school) sekalipun.

Pembaca sekalian, anggaplah hari ini Anda sedang menjaIani ujian dalam bidang perencanaan keuangan dan ada beberapa pertanyaan yang harus Anda jawab:

1. Misalkan Anda punya tabungan Rp100 juta dengan bunga 2% per tahun. berapakah tabungan Anda sete— Iah 5 tahun?

a) lebih dari Rp102 juta
b) Rp102juta
c) kurang dari Rp102 juta

2. Seandainya suku bunga tabungan saat ini 1% dan sebesar 2% per tahun. Setelah 1 tahun nanti, uang yang Anda miiiki bisa digunakan untuk membeli lebih banyak, sama persis, atau Iebih sedikit dari apa yang bisa Anda beli saat ini?
a) lebih banyak dari saat ini

b) sama persis

c) lebih sedikit dari saat ini

3. Seandainya tingkat suku bunga naik, bagaimana yang biasa terjadi dengan harga obligasi?

a) harganya naik

b) harganya turun

Categories: Uncategorized Tags:

Motivasi Dengan Cara Yang Bahagia

November 6th, 2014 Comments off

KEBAHAGIAAN SEJATI HANYA BERASAL DARI SATU HAL: TERCAPAINYA TUJ UAN,r ENTAH TUJUAN lTU BERSIFAT PRIBADI, PEKERJAAN, ATAU YANG LAIN.

Anda merasa sangat berbahagia jika anda merasakan bahwa anda dapat mengembangkan diri. jika Anda dapat mengembangkan diri, berarti Anda telah memberikan kontribusi dan meraih kemajuan untuk meraih impian Anda, dan Anda akan melihat bahwa Anda memiliki vitalitas dan energi yang tak terbatas. Waktu yang dihabiskan untuk melakukan berbagai aktivitas yang hanya memberikan manfaat sedikit dapat mengurangi perasaan santai (misalnya nonton televisi) yang berarti kehiiangan waktu untuk seiamanya. Relaksasi sangat panting, tetapi pilihlah teknik relaksasi yang paling efektif untuk memperoleh kesegaran, dan habiskanlah waktu Anda untuk melakukan haI-hal yang produktif sehingga sedikit demi sedikit prestasi Anda akan mening~ kat. Kebahagiaan dapat diraih melalui perbuatan, bukan melalui tidur.

NAPOLEON lll DARI PRANCIS MEMlLlKl KEMAMPUAN ISTIMEWA UNTUK MENGINGAT NAMA SEMUA ORANG YANG PERNAH DIJUMPAINYA.

Rahasianya adalah ia selalu mengucapkan, “Maaf saya lupa nama Anda,” ketika ia baru berkenalan dengan seseorang. Hal ini menyebabkan nama tersebut diulang sehingga masuk ke dalam ingatannya. Jika nama itu sulit diucapkan, ia meminta agar pemilik nama itu mengeja namanya.

Categories: Uncategorized Tags:

Tanamkan Mindset Sukses

October 16th, 2014 Comments off

SELALULAH MENJAWAB TELEPON DENGAN PENUH ANTUSIAS DALAM SUARA ANDA, DAN TUNJUKKAN PENGHARGAAN ANDA TERHADAP ORANG YANG MENELEPON ANDA. Sikap menelepon yang baik sangatlah penting. Agar Anda lebih berwibawa, maka berdirilah. Sikap ini akan menyebabkan suara Anda terdengar lebih meyakinkan.

NYALAKAN LlLlN DI SAMPING ANDA KETIKA ANDA MEMBACA PADA SORE HARI AGAR ANDA LEBIH SANTAI DAN DAPAT MENIMBULKAN SUASANA YANG MENAKJUBKAN DAN TENANG. Jadikan rumah Anda sebagai oasis dari hiruk-pikuk dunia di luar rumah. lsilah rumah Anda dengan musik bermutu, bukubermutu, dan teman-teman yang bermutu.

UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI ANDA DAN KEMAMPUAN ANDA, HITUNGLAH LANGKAH ANDA KETIKA ANDA BERJALAN. Teknik ini sangat luar biasa. Melangkahlah enam langkah sambil menghirup napas panjang, tahan napas Anda selama enam langkah berikutnya, kemudian hembuskanlah selama enam Iangkah berikutnya. Jika enam Iangkah terlalu panjang bagi napas Anda, lakukanlah berapa Iangkah saja sesuai dengan kenyamanan Anda. Maka Anda akan merasa waspada, bugar, dan batin

Anda merasa lebih tenang dan bisa lebih berkonsentrasi setelah latihan ini. Sangat banyak orang yang membiarkan pikirannya diisi dengan ocehan. Semua prestasi puncak memerlukan pikiran yang tenang dan jernih, yang akan mampu berkon* sentrasi dalann semua tugas yang penting.

Categories: Uncategorized Tags:

Resep Minuman Mocktail Apple Julep

March 8th, 2014 Comments off

BAHAN:

200 ml jus apel

200 ml jusjeruk

200 ml jus nanas

400 ml air soda

100 ml air jeruk lemon

Daun mint secukupnya

Es batu secukupnya

CARA MEMBUAT:

Campur semua Tuang ke gelas-gelas

saji. hias dengan duan mint

Untuk 5 porsi

 

Categories: Uncategorized Tags: